Jan 31 2018
Seluruh Madrasah Negeri di Sulteng Berubah Nama
PALU, PE – Seluruh Madrasah negeri yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN), akan diubah namanya mulai tahun 2017.
Perubahan sejumlah 19 MIN, 28 MTsN dan 9 MAN se-Sulteng, berdasarkan Keputusan Menteri Agama (Menag) RI nomor 680 tahun 2016, yang ditandatangani langsung oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.
Data dari Bidang Pendidikan Madrasah (Pendma) Kanwil Kemenag Sulteng, Pada perubahan tersebut, Madrasah yang sebelumnya menggunakan nama daerah/Kecamatan di sekitar lokasi Madrasah tersebut, akan diganti menjadi nama Kabupaten/Kota.
Jika di sebuah Kabupaten/Kota terdapat lebih dari satu Madrasah setingkat, maka akan diberikan pengurutan angka.
Di Kota Palu, nama-nama Madrasah yang berubah adalah, untuk tingkat MIN, MIN Model Palu berubah menjadi MIN 1 Kota Palu, dan MIN Pantoloan berubah menjadi MIN 2 Kota Palu.
Selanjutnya di tingkat MTsN, MTsN Model Palu Timur berubah nama menjadi MTsN 1 Kota Palu, MTsN Palu Barat menjadi MTsN 2 Kota Palu, MTsN Palu Selatan menjadi MTsN 3 Kota Palu dan MTsN Taipa Palu Utara berubah menjadi MTsN 4 Kota Palu.
Di tingkat MAN tidak terdapat perubahan berarti, MAN 1 Palu akan menjadi MAN 1 Kota Palu, serta MAN 2 Model Palu berubah nama menjadi MAN 2 Kota Palu.
Di daerah lainnya, di Kabupaten Parigi Moutong Misalnya, MIN Sausu berubah menjadi MIN 1 Parigi, MIN Pinotu menjadi MIN 2 Parigi dan MIN Moutong menjadi MIN 3 Parigi. Lalu, MTsN Parigi di Sausu berubah menjadi MTsN 1 Parigi, MTsN Tomini menjadi MTsN 2 Parigi dan MTsN Moutong menjadi MTsN 3 Parigi. Kemudian, MAN Sausu diubah menjadi MAN 1 Parigi, serta MAN Tomini berubah menjadi MAN 2 Parigi.
Kepala Bidang Pendma Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, H. Nasruddin L. Midu menjelaskan, Madrasah-madrasah Negeri yang ada di Sulteng, tinggal melakukan penyesuaian administrasi, terkait perubahan nomenklatur tersebut.
Namun, dari seluruh nama Madrasah tersebut, ia mengungkapkan, masih ada 11 Madrasah yang masih ditunda perubahan namanya. Penundaan ini, terkait dengan nama Madrasah yang ada di beberapa Kabupaten pemekaran, yang namanya dalam SK Menag tersebut masih menggunakan nama Kabupaten sebelumnya.
“Ini ter-pending, karena penamaannya dalam Surat tersebut, masih menggunakan nama daerah sebelum pemekaran. Juga, masih ada 2 Madrasah yang belum tercatat dalam surat tersebut, yaitu MIN Buol dan MAN Biau yang akan diubah menjadi MAN Buol,” kata Nasruddin, saat ditemui, Senin (13/2).
Terkait hal ini, lanjut Nasruddin, pihak Kanwil Kemenag Sulteng, telah mengirimkan surat usulan perbaikan, kepada Kementerian Agama RI, untuk diterbitkan revisi.
“Usulan revisinya sudah dikirim, dan untuk 2 Madrasah yang belum masuk, masih kita ajukan lagi,” imbuhnya.
Terkait perubahan nama tersebut, Kepala MTsN Palu Selatan, Drs. Ahyar menyebutkan, pihaknya masih menunggu Surat Edaran resmi, dari Kanwil Kemenag Sulteng, maupun dari Kantor Kemenag Kota Palu, sebagai pegangan resmi bagi Madrasahnya, untuk selanjutnya mengambil langkah-langkah terkait perubahan nama tersebut.
“Kami masih menunggu surat edarannya, setelah itu saya rasa tidak akan banyak kesulitan terkait perubahan nama ini, mungkin yang paling berpengaruh adalah perubahan administrasi,” ujar Ahyar.
(mg01/Palu Ekspres)



Jan 31 2018
MTsN Parigi Beri Bantuan untuk Korban Banjir Sausu Peore
PARIGI MOUTONG – Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Parigi (MTsN) memberikan bantuan kemanusiaan untuk korban banjir yang melanda Desa Sausu Peore Kecamatan Sausu Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (27/11) lalu.
Bantuan yang diberikan tersebut merupakan hasil penggalangan dana dari seluruh siswa siswi, pimpinan, guru dan staf MTsN 1 Parigi.
“Dana yang terkumpul itu dibelikan sembako, kemudian diserahkan langsung oleh keluarga besar MTsN 1 Parigi kepada korban banjir di Desa Sausu Peore,” ujar Kepala MTsN 1 Parigi, Darsono kepada Songualara, Kamis (30/11).
Kedatangan keluarga besar MTsN 1 Parigi tersebut disambut hangat para warga dan orang tua siswa. Sebab, salah seorang korban banjir itu, diantaranya ada beberapa siswa di MTsN 1 Parigi yang merupakan warga Desa Sausu Peore.
Salah seorang siswa MTsN Parigi, Ira yang merupakan korban banjir berharap pemerintah Parigi Moutong secepatnya memperbaiki tanggul yang jebol tersebut agar masyarakat bisa beraktifitas sebagaimana biasanya.
“Semoga secepatnya, agar kami tidak lagi terkena banjir bandang,” ujarnya.
Menurut penuturan warga setempat, banjir tersebut mengakibatkan akses jalan rusak parah dan kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Banyak ternak dan kelapa (kopra) juga ikut terseret banjir. Beberapa warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dan ke desa-desa tetangga. Dampak dari banjir tersebut juga membuat warga kesulitan bahan makanan terutama air bersih.
“Bantuan yang datang itu sudah lumayan banyak, mulai dari Basarnas, Kamsat keliling, dari desa tetangga dan sekarang dari MTsN 1 Parigi,” ungkapnya. AKSA
By admin • News 0